Tahapan Penghamparan Campuran Aspal

Selama hampir 4 (empat) tahun, setelah lulus kuliah baru kali ini saya bertemu dengan pekerjaan penghamparan aspal. Luar biasa, hahaha. Saking bersemangatnya sampai dini hari saya rela menemani para pahlawan infrastruktur ini bekerja dengan penuh semangat. Jujur saja, bertemu dengan aspal untuk pertama dan terakhir kalinya dulu waktu masih duduk di bangku kuliah, itupun hanya mata kuliah “Perkerasan jalan raya”, namun setelah itu hilang tak berbekas diingatan. 

Pekerjaan penghamparan ternyata sama rumitnya dengan pengecoran beton, banyak hal yang harus dilakukan dan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Tidak hanya asal saja yang penting terhampar, kalau cara itu yang dipakai tak heran banyak jalan rusak di Indonesia padahal belum menyentuh umur rencana.

Bertemu dengan Para pengawas berpengalaman sungguh seperti kuliah kembali, penjelasan satu persatu tahapan, cara kerja sampai fungsi alat satu persatu. Tentunya ilmu ini harus diserap baik-baik. Nah biar gak saya lupa dan berhubung punya blog kecil-kecilan bolehlah saya tuangkan disini apa yang saya dapat dari pekerjaan semalam.

Penghamparan Campuran Aspal / Laston
sumber gambar: http://ayuseptaperdana.co.id/

Lokasi proyek adalah Ruas Jalan yang menghubungkan Airmadidi sampai Tondano, Kabupaten Minahasa Utara. Pekerjaannya adalah overlay atau pelapisan kembali lapisan permukaan eksisting dengan menggunakan AC-BC tebal 6 cm dan AC-WC tebal 4 cm. Proses yang sedang dilaksanakan saat ini adalah proses penghamparan AC-BC. Berhubung lalu lintas padat dan kondisi AMP yang baru memungkinkan untuk produksi aspal di sore hari, maka penghamparan dilakukan di malam hari.

Tahapan pelaksanaan penghamparan aspal berdasarkan pengamatan tadi malam antara lain:

1.  Menyiapkan permukaan yang akan dilapisi

Berhubung ini adalah pekerjaan pelapisan ulang, maka campuran aspal AC-BC akan dihampar di lapis permukaan aspal eksisting. Supaya kedua permukaan yang heterogen tersebut dapat menyatu diperlukan lapis perekat atau lebih dikenal dengan tack coat. Namun sebelum dilakukan penghamparan tack coat, Permukaan harus bersih dari sampah atau noda. Ada dua cara metode penghamparan, pertama tack coat terlebih dahulu dipanaskan hingga suhu yang sesuai baru kemudian dihampar tipis ke permukaan, setelah dihampar sudah bisa langsung dilakukan penghamparan Laston (lapis aspal beton, atau nama lain dari Asphalt Concrete/AC). Sedangkan cara kedua yaitu, tack coat langsung dihampar dalam keadaan suhu udara, namun ini perlu waktu sampai aspal mulai pecah, maksudnya aspal mulai terjadi proses kimia yang ditandai dengan perubahan warna dari hitam kecokelatan menjadi hitam legam. Prosesnya memakan waktu 1-4 jam sampai tack coat siap untuk dihampar dengan Laston.

Sebetulnya, sesuai peraturan, harus menggunakan acuan tepi, acuan tepi ini harus berupa balok kayu lurus atau acuan lain yang disetujui dan harus dipasang sesuai dengan elevasi sesuai rencana ketebalan hamparan. Namun berhubung ini adalah pekerjaan overlay maka acuan tidak digunakan untuk kemudahan pelaksanaan.

Iring-iringan Dump Truck Pembawa Campuran Aspal

2. Pengangkutan dan penyerahan di lapangan

Campuran aspal yang dibawa dari AMP (Asphalt Mixing Plant) harus diterima di lapangan untuk dihampar dengan temperatur campuran tertentu sehingga memenuhi ketentuan viskositas aspal absolut. Sebagai gambaran bisa dilihat di tabel berikut:


Jadi, pada saat Campuran aspal dituang dari dump truk ke penghampar/finisher asphalt harus minimal bersuhu 130 derajat celcius.

3. Penghamparan

Pada pekerjaan ini digunakan penghampar dengan lebar 2,5 m, penggunaan penghampar model ini dimaksudkan agar arus lalu lintas tetap dapat berjalan sembari pengaspalan pada satu lajur jalan. Sebelum memulai penghamparan, unit sepatu (screed) alat penghampar harus dipanaskan supaya campuran aspal pertama kali tidak “kaget” dengan suhu alat. alat penghampar (asphalt finisher) harus dioperasikan dengan suatu kecepatan yang konstan yang tidak menyebabkan retak permukaan, koyakan, atau bentuk ketidakrataan lainnya pada permukaan. Kecepatan penghamparan harus disesuaikan dengan kapasitas produksi AMP.

Penampung (bin) alat penghampar tidak boleh kosong dari campuran aspal supaya suhu tidak turun dan penghamparan bisa homogen. Suhu campuran harus dijaga betul sampai selesai penghamparan campuran aspal harus bersuhu min. 120 derajat celcius. Maka ini perlu persiapan yang matang dan pelaksanaan yang sigap dan terampil supaya tidak terjadi keterlambatan dalam proses penghamparan.

Kalau terjadi segregasi, koyakan atau alur pada permukaan yang disebabkan oleh alat penghampar, maka alat penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai diketahui penyebabnya dan diperbaiki sesegera mungkin atau bila tidak bisa tertangani maka penghamparan dibatalkan karena suhu aspal pasti telah turun jauh dari yang dipersyaratkan.

Hasil Penghamparan Asphalt Finisher

4. Pemadatan

Pemadatan campuran aspal harus terdiri dari tiga tahap yang terpisah yaitu: pemadatan awal (breakdown rolling), pemadatan antara (intermediate rolling), pemadatan akhir (finish rolling). Penggilasan awal dan akhir dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja (tanpa penggetar) atau biasa dikenal dengan istilah double drum roller. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum dua lintasan penggilasan awal.

Pemadatan antara harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet atau dikenal dengan istilah pneumatic roller sedekat mungkin di belakang pemadatan awal dan dilakukan sebanyak mungkin lintasan dalam rentang temperatur yang disyaratkan sesuai Tabel diatas. Pada pelaksanaan malam ini, pemadatan antara dilaksanakan sebanyak min. 22 kali lintasan (bolak-balik). Setelah itu baru Pemadatan akhir dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja (tanpa penggetar) kembali sampai jejak bekas pemadatan roda karet hilang.

Perlu dicatat bahwa kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga pada kecepatan konstan supaya tidak terjadi kerusakan padatan campuran aspal. Roda alat pemadat harus dibasahi secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran aspal pada roda alat pemadat, namun juga tidak boleh berlebihan. Setelah pemadatan selesai, peralatan berat atau alat pemadat tidak diizinkan berada di atas permukaan yang baru selesai dikerjakan, sampai seluruh permukaan tersebut dingin. Begitu pula untuk pembukaan lalu lintas.

Hari-hari berikutnya bisa dilakukan coring test pada permukaan AC-BC untuk mengetahui kepadatan apakah sesuai atau tidak seperti yang ditentukan. SNI 03-6757-2002 mensyaratkan tidak boleh kurang dari 97% kepadatan standar kerja (job standard density, JSD) untuk lataston (HRS) dan 98% untuk semua campuran aspal lainnya.

Demikian laporan pengawasan yang saya lakukan sampai dini hari. Biarpun gegara ini istri jadi cemberut karena suami tak kunjung pulang kerja tepat waktu, hehe, tapi ada kepuasan tersendiri bisa mendapatkan ilmu baru di bidang aspal-mengaspal. Insya Alloh nanti kalau sempat akan saya tulis kelanjutannya. Amin.

Catatan:
Sebagian sumber saya dapatkan dari Revisi SNI 03-1737-1989 tentang Pelaksanaan lapis campuran beraspal panas yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum.

Related Posts:

5 Responses to "Tahapan Penghamparan Campuran Aspal"

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Tulisan ini sangat informatif. :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete
  2. mau tanya kak bagaimana proses penghamparan perlapisnya? gimana menyesuaikan lapis sesuai dengan ketebalan rencana? apa kalau tebalnya 8cm bisa langsung dihampar setebal 8cm atau berthap per brp cm gitu? terima kasih

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan sopan

Bila tidak memiliki ID blogger bisa menggunakan Name/URL lalu masukkan Nama dan URL facebook/twitter anda. hindari menggunakan Anonim, Terima kasih.