Orang Puasa! Hormatilah yang Tidak Berpuasa

Berkali-kali, umat muslim diprovokasi oleh berita-berita yang dengan nada menghujam, menghantam, dan membanting dengan keras, nurani direnggut dengan logika yang ingin dibalik-balik. Mereka seakan berteriak; Hei Muslim yang taat hormatilah kami yang tidak berpuasa, kami juga manusia yang lapar, haus, bahkan butuh hiburan malam. Hei muslim yang taat janganlah kalian sok berpuasa, sok mengatur-atur orang agar menjalankan puasa, tidak perlu sok membuat Peraturan Daerah yang menghambat kami-kami ini yang tidak puasa agar tetap bisa makan dan minum. Hai Kalian muslim yang taat, kalian dungu, puasa lah untuk dirimu sendiri, tidak perlu mengatur puasa-puasa umat muslim yang lain, terlebih kami yang tidak berpuasa.

Hormatilah orang yang tidak puasa!

Apakah tulisan saya berlebihan? Tidak. Seminggu ini saya mengamati semenjak kasus Satpol PP merazia warung-warung makan di suatu daerah di Jawa bagian barat itu, seolah menjadi dasar bagi mereka untuk menjadikan hal ini bulan-bulanan bagi umat muslim. Saya menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa ada “kesalahan” prosedur dalam razia tersebut, misal alangkah lebih eloknya apabila ada sosialisasi terlebih dahulu, baru kemudian surat peringatan 1,2 dan seterusnya, terakhir apabila tidak ada solusi lain (dengan tirai atau pembatasan jam buka warung) dan pelanggaran tetap terjadi baru penutupan paksa (tanpa perusakan), namun diluar hal tersebut, Jastifikasi langsung dari mereka yang tertuju pada kesalahan Perda yang dibuat oleh Bupati semata itu menjadi sangat konyol. Itulah sebabnya ijinkan saya menyampaikan uneg-uneg ini.
   
Kebiasaan kita dalam upaya hormat-menghormati adalah orang yang bebas melakukan menghormati orang yang dilarang untuk melakukan. Kita ambil contoh,
  • Orang merokok harus menghormati orang yang tidak merokok, terlebih apabila berada dalam kendaraan umum.
  • Orang naik kendaraan bermotor harus menghormati orang yang naik sepeda, begitu pula Pesepeda dan Pengendara Bermotor harus menghormati pejalan kaki.
  • Orang normal harus menghormati hak-hak orang disabilitas sehingga timbulah konsep “Kesetaraan Gender”, yang kuat mengerti, memahami, dan melindungi yang lemah sehingga tercipta keadilan dan kesetaraan.

Nah sayangnya dalam kasus ini, seolah-oleh Umat Muslim harus dipaksa untuk menghormati mereka-mereka yang bebas untuk tidak puasa, bebas untuk minum alkohol, bebas untuk tidak sholat, bebas untuk menjadikan pemimpin siapapun asal bukan muslim. Dan kebebasan lainnya asal bukan Islam.


Kesalahan logika berpikir ini diperparah dengan realitas yang ada di Agama dan kepercayaan lain, bahwa apabila “Diskriminasi” dijalankan oleh Agama dan kepercayaan selain Islam maka Umat Muslim wajib/harus/kudu menghormati diskriminasi tersebut meskipun Toleransi yang diberikan umat Muslim sedemikian besarnya. Contohnya tidak sedikit, dan selama ini jarang diangkat oleh media, itulah hebatnya;
  • Di Bali, Saudara-saudara kita umat Islam sangat menghormati perayaan Nyepi. Pada saat khidmatnya perayaan tersebut tidak tanggung-tanggung sampai bandara pun harus menghentikan segala aktivitasnya demi mencapai kekhidmatan pelaksanaan Nyepi. Umat muslim disana jangan ditanya toleransinya, Mesjidpun tidak menggunakan pengeras suara, karena takut mengganggu, bahkan beberapa muslim dengan ikhlas ikut membantu mengamankan kelancaran perayaan tersebut.
  • Di Jawa, pada waktu Natal Tiba umat Muslim tidak segan membantu mengamankan gereja dalam perayaan Natal agar bisa berlangsung dengan khidmat, meskipun seringkali umat muslim diprovokasi oleh banyaknya pembangunan gereja yang berada ditengah-tengah pemukiman muslim mayoritas, toh tidak merubah nilai toleransi dari umat Muslim.
  • Di Manado, meskipun komposisi penduduk Kristen dengan muslim tidak terpaut jauh diangka 60:40, akan tetapi dominasi Kristen begitu terasa di daerah tersebut. Mulai dari jumlah rumah ibadah sampai alokasi dana APBD untuk honorarium tokoh agama. Manado memiliki gereja hampir 70% dari total rumah ibadah, sementara itu Masjid hanya 27%. Alokasi APBD untuk honorarium tokoh agama-pun demikian, Tokoh agama Kristen mendapat hampir 80% sementara Muslim tidak sampai 20%. Kita belum bicara tentang semaraknya perayaan-perayaan Natal, Paskah, dan Ibadah lainnya yang dengan kesadaran toleransi yang tinggi Umat Muslim disini menghormati hal tersebut dan tetap menghargai Umat Kristiani menjalankan ibadahnya meskipun Umat Muslim mendapat perlakuan “diskriminasi” sedemikian rupa.
Banser NU menjaga Gereja

Perlu saya tekankan seperti ditulisan sebelumnya, bahwa saya bukanlah ingin menyampaikan segala ke-“diskriminasi”-an ini dengan tujuan memperkeruh suasana dan merusak kekhidmatan kami yang sedang berpuasa, tentu bukan. Saya hanya ingin membuka sedikit khazanah kepada yang lain bahwa Umat Muslim sudah sedemikian toleransinya hingga tercipta Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini dengan Dasar pertama sila Pancasila ada “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Janganlah diperkeruh suasana toleransi yang telah tercipta ini dengan memojokkan Umat Muslim bahwa kami harus begini-harus begitu.

Ada tambahan, kemarin beredar luas tulisan di medsos, lucunya ini dishare oleh kawan-kawan kami yang non muslim, kata-katanya begini:
“Seandainya saya berpuasa, saya pastikan tidak ada seorang pun perlu menyesuaikan apapun terhadap saya. Ini pertarungan saya. Ibadah saya. Pahala saya. Apa perlunya dengan anda? Nikmati hidup anda. Abaikan saya.”
“seandainya saya berpuasa. Maka dunia tidak perlu memberi fasilitas apapu. Ini saat menguji diri : siapa tuan atas indera saya. Dunia ataukah saya!”
“Seandainya saya berpuasa. Saya ingin kemenangan karena pertempuran. Buka pemberian. Saya ingin kemengan dengan luka-luka perang yang sesungguhnya. Jangan redupkan segenanp semarak yang menggoda! Tanpa itu, maka kemenangan hanyalah euphoria memekakkan telinga. Kalah, namun memekik memang.”
“Seandainya saya berpuasa. Saya akan menjadi rahmat bagi semesta dan bukannya memperkosa semesta bagi saya.”
“Karena lahir sendiri. Mati pun sendiri. Sejatinya semua ini urusan saya dan Dia.”

Saya ucapkan luar biasa!. Kalau kita bicara tingkatan orang berpuasa menurut imam Al Gozhali yang tertuang dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, maka tulisan tadi sudah mencapai tingkatan teratas, yakni orang-orang yang mampu mempuasakan hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Itu tingkatannya Nabi dan Sahabat-sahabat Nabi serta orang sholeh yang Ibadahnya tidak bisa dibandingkan dengan Ibadahnya orang awam seperti kita ini. Kita ini, yang sehari-hari sholat lima waktu saja susah, puasa sunnah jarang, puasa romadhon susah payah paling banter hanya sanggup ditingkatan terakhir yakni yang berpuasa hanya menuntaskan kewajiban, hanya menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Selebihnya hanya kita isi dengan tidur di siang hari.

Lah kita-kita ini sudah sampai tingkatkan mana kok berani-beraninya menasehati sesama Umat Muslim untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Anak kecil yang baru belajar berpuasa saja bisa batal akibat melihat ada jajanan es didepan sekolah. Maka untuk memaksa anak-anak kecil tersebut tidak ada salahnya Kepala Sekolah melarang es berjualan didepan gerbang sekolah sebagai pembelajaran. Kita memang sudah bukan anak kecil, tapi sikap “Kekanak-kanakan” masih sering hinggap. Jujur saja.

Jadi semata-mata menyalahkan “Penghormatan terhadap Umat Muslim Yang Berpuasa” sebagai bentuk diskriminasi kok ya rasa-rasanya sama saja dengan orang yang teriak bahwa agama lain mendiskriminasi umat Muslim itu boleh. Poinnya adalah, kita ini masih sama-sama belajar beragama yang baik dan benar. Hormati apa yang menjadi aturan agama lain, dan hargai setiap perbedaan dengan lebih bijak.

Lebih elok lagi kalau kita memfokuskan kelebihan-kelebihan lain yang terjadi di Bulan Puasa, mulai dari Jam Kerja yang lebih singkat, Atasan/Bos yang jadi lebih kalem, Waktu istirahat lebih panjang, Dapat THR di akhir bulan, dan yang ditunggu-tunggu, Cuti Lebaran. Jujur saja, semua pemeluk agama lain pastinya juga ikut menikmatinya, iya kan, hehe.

Semoga ibu penjual nasi yang kena razia dapat berjualan kembali tanpa harus melanggar Perda, dan semoga Aparat Pemda bisa lebih bijak dalam melakukan razia, cukup sampai disitu, tidak perlu ada penyalahan Agama tertentu. Kalau bisa terus saling menghargai dan menghormati jelas itu lebih baik. Amin

Sumber berita:
http://forum.liputan6.com/t/keindahan-toleransi-hindu-islam-di-bali-saat-momen-nyepi-sekaligus-gmt/26069
https://m.tempo.co/read/news/2013/12/25/058540078/banser-nu-jaga-gereja-sampai-tahun-baru
http://kawanuapost.com/wp-content/uploads/2015/12/Banser.jpg
http://www.gomanado.com/2015/02/12/1753/apbd-kota-manado-anggarkan-11-milyar-untuk-honor-tokoh-agama/
http://sulut.kemenag.go.id/file/file/humas/zhtq1375410690.pdf
   

Related Posts:

0 Response to "Orang Puasa! Hormatilah yang Tidak Berpuasa"

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan sopan

Bila tidak memiliki ID blogger bisa menggunakan Name/URL lalu masukkan Nama dan URL facebook/twitter anda. hindari menggunakan Anonim, Terima kasih.