Daya Dukung Pondasi Pancang dengan Metode Hiley

Bergelut di dunia Jembatan, mutlak diperlukan pondasi yang kuat sebagai dasar bangunan. Sebenernya gak cuma jembatan, seluruh bidang kehidupan, baik itu ekonomi, hukum bahkan rumah tangga sudah sewajarnya memiliki pondasi yang kuat, supaya dapat bertahan dari terpaan badai masalah, gelombang cinta, riak-riak kehidupan, dan pasang surut kadar iman. Loh-loh ini ngomong opo toh? Malah merembet ke cinta-cintaan, padahal Cupatkay pernah berujar “Beginilah cinta, deritanya tiada berakhir”, Haiyah.

Pemancangan di Proyek Manado Bypass
Back to topic, berhubung 5 (lima) tahun ini Alhamdulillah selalu bertemu dengan yang namanya Jembatan, maka masalah yang pertama kali ada ketika temen-temen di lapangan pasti mengenai tanah. Bicara mengenai tanah pasti bicara tentang pondasi. Dengan segala ketidakpastian dan beragamnya variable yang ada di tanah, para suhu-suhu macam Pak Braja M. Das, Joseph Bowles, Hary Christady, Suryono Sosrodarsono (macam bikin daftar pustaka aje nih), dan lain-lain, merupakan pakar-pakar luar dan dalam negeri yang sebagiannya telah berhasil membuat metode empiris dalam melakukan pendekatan terhadap tanah. Nah dengan adanya metode tersebut, kita orang sipil kemudian (bau kencur) jadi mudah untuk merumuskan besaran daya dukung suatu pondasi atas tanah. Kita doakan semoga beliau-beliau ini mendapat amal jariyah. Amin.

Sebelum masuk ke daya dukung pondasi, kita harus paham dulu urutan sampai muncul namanya PONDASI:
  • Jembatan itu punya beban, baik beban mati maupun beban hidup yang ditimbulkan oleh kendaraan, air hujan, gempa dan sebagainya.
  • Jembatan ada Abutmen dan Pier sebagai penyangga bentang, nah semua beban tadi bakal masuk ke tiap Abutmen atau Pier.
  • Beban dari Abutmen dan Pier akan diteruskan ke Pilcap, dari Pilecap kemudian ke Pondasi
  • Beban total yang dihitung itu sebagai contoh, 1500 ton, sebagai beban yang harus ditanggung oleh tanah.
  • Nah tanah itu harus kita hitung berapa besar kekuataannya, mampu atau tidak, oleh karenanya kita harus melakukan penyelidikan tanah dengan sondir/CPT maupun bor SPT.
  • Setelah dapat data CPT atau SPT baru deh kita coba-coba (trial-error) pakai pondasi tipe apa, diameter seberapa, dan kedalamannya sampai mana. Hasil hitungannya inilah didapat daya dukung tanah. Perhitungan daya dukung tanah pada fase ini termasuk pada fase Perencanaan. Salah satu software yang mempermudah untuk menghitung besaran nilai daya dukung pondasi adalah AllPile adalah software buatan Civiltech. Postingan saya lebih lanjut insyaAlloh berkenaan tentang ini.
  • Nah hasil dari perencanaan didapat daya dukung pancang dengan penjabaran tipe pondasi, jumlah pondasi, diameter pondasi dan lain sebagainya. Daya dukung per pancang ataupun group dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan dilapangan.
  • Pada saat pelaksanaan pekerjaan, kontraktor wajib memegang besaran nilai daya dukung sebagai acuan, kalo pas dipancang maupun di cor tiang tersebut menunjukkan tanda-tanda tidak confirm, maka engineer wajib melakukan langkah-langkah strategis, bisa desain ulang atau perbaikan pondasi.
  • Ijinkan saya pada kali ini bahas tentang pondasi pancang ya, jenis pondasi lain lagi disiapin datanya, maklum bos, sembari kerja sembari ngeblog, mohon dimaklumi ya. Kalau kita pakai tiang pancang, setelah dilaksanaakan pemancangan didapat data kedalaman dan kalendering (10 pukulan terakhir).
  • Data-data tersebut akan kita olah dengan rumus Hiley, supaya didapat pendekatan nilai daya dukung yang lebih tokcer ketimbang hanya dari data tanah SPT ataupun CPT.
Berhubung saya berkecimpung di Proyek-proyek Direktorat Jenderal Bina Marga yang kudu dipakai adalah Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3 yang bisa didonlod disini. Nah di Divisi 7 Struktur, Halaman 95, dijelaskan perihal Rumus Dinamis untuk Perkiraan kapasitas Tiang Pancang.

Kapasitas daya dukung tiang pancang (masih menurut Spek) harus diperkirakan dengan menggunakan rumus dinamis (Hiley).


Pu  = Kapasitas daya dukung batas (ton)
Pa  = Kapasitas daya dukung yang diijinkan (ton)
ef   = Efisiensi palu**                   
             ef = 0,85-1,00  untuk diesel hammer                   
             ef = 0,75-1,00  untuk drop hammer                   
             ef = 0,75-0,85 untuk single/double acting hammer
W   = Berat palu atau ram (ton)
Wp = Berat tiang pancang (ton)
H    = tinggi jatuh palu (m)
      = H = 2H' untuk palu diesel (H' = tinggi jatuh ram)
S    = Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukan terakhir (kalendering), atau “set” (cm)
C1  = Tekanan sementara yang diijinkan untuk kepala tiang dan poer (m)

C2  = Tekanan sementara yang diijinkan untuk deformasi elastis dari batang tiang pancang (cm) yang dapat dihitung dengan persamaan :                   
           W  = Pijin/Daya dukung ijin (ton)
            L  = Panjang tiang (m)       
            E  = Modulus elastisitas tiang (ton/m2)       
            A  = Luas permukaan tiang (m2)       


C3  = Tekanan sementara yang diijinkan gempa di lapangan (cm)                   
         yang dapat diambil sebagai berikut :                   
          - 0,0  untuk tanah keras (batu, pasir padat dan gravel)               
          - 2,5mm s/d 5mm untuk lainnya               
n    = Koefisien restitusi*                   
          - 0,50 untuk Tiang pancang baja tanpa bantalan kayu/tiang beton                
              dengan bantalan               
          - 0,40 untuk Palu besi cor diatas tiang pancang beton tanpa topi               
          - 0,40 untuk Bantalan kayu pada tiang pancang baja               
          - 0,32 untuk Bantalan kayu diatas tiang pancang baja               
          - 0,25 untuk tiang kayu               
                   
Daya dukung mendapatkan factor koreksi yaitu:                   





Faktor aman (SF)*** :                   
SF = 3 untuk permanen load                   
SF = 1 untuk temporary load                   
                   
Sumber :  *) **) ***) Braja M. Das  dan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Rev. 3                   

Misal daya dukung dari perencanaan pile tersebut mampu menopang beban 25 ton, sedangkan hasil yang didapat dari hitung-hitungan diatas didapat 100 ton, dengan nilai safety factor (lebih besar belum tentu lebih baik, ambil secukupnya) 3, maka 100/3 = 33,3 ton masih lebih besar dari 25 ton, maka Pondasi dinyatakan aman gan.

Contoh hitungan bisa didownload dimari, tapi inget gan, lebih baik mengerti filosofis dan coba bikin sendiri di excel, lebih meresap ke otak, nanti kalo atasan ato pengguna jasa Tanya kita bisa luwes menjelaskan. Sekian dulu mas bro, mbak sist. Mudah-mudahan masih punya kesempatan untuk berbagi ilmu lainnya. Salam Insinyur.

Related Posts:

4 Responses to "Daya Dukung Pondasi Pancang dengan Metode Hiley"

  1. Sangat bermanfaat. Semoga yg nulis juga dapat amal jariyahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnnn, Terimakasih Pak Nobel, kalo bapak malah nulisnya udah bejibun, saya mah kalah jauh, dan semoga tulisan bapak bermanfaat sebesar2nya bagi orang lain, Amin

      Delete
  2. Klu ada yg bentuk excel nya om kirim ke email.. hehehe.. makasih banyak.. smoga bermanfaat.maklum om masih fomula belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, sudah di coba sendiri? kalo memang mentok bisa minta melalui email ya

      Delete

Silahkan berkomentar dengan sopan

Bila tidak memiliki ID blogger bisa menggunakan Name/URL lalu masukkan Nama dan URL facebook/twitter anda. hindari menggunakan Anonim, Terima kasih.